Covert Selling
Istilah ini saya jumpai saat membaca sebuah buku tentang storytelling.
Di dalam buku tersebut, si penulis menyebutkan ada 3 cara berjualan:
- Hard selling
- Soft selling
- Covert selling
Hard selling itu cara jualan yang agresif, terlihat banget kalau dia itu sedang jualan. Soft selling, penyampain penawaran dengan cara yang menarik, tetapi orang pada tahu kalau itu juga sedang jualan.
Covert selling itu benar-benar makhluk yang beda. Karena merupakan teknik berjualan tetapi menyembunyikan pesan jualannya. Sehingga orang yang melihat penawaranya seakan-akan tidak merasa dijuali.
Tentu ada kekurangan dari covert selling ini, karena kita tidak terang-terangan menyebutkan brand, bisa jadi.
Prinsip covert selling yang saya pahami adalah berjualan tanpa terlihat berjualan. Di dalam penawarannya tidak ada yang namanya ajakan atau penawaran.
Jadi, syarat sahnya sebuah covert selling adalah tidak terdeteksi adanya ajakan beli atau penawaran.
Kenapa kamu harus mempelajari teknik ini?
Ketika kita berjualan dengan memanfaatkan platform digital, kita sebenarnya harus paham siapa target market dan kenapa ia menggunakan platform digital tersebut, dalam konteks ini adalah social media.
Kita harus paham, kalau orang-orang yang membuka Instagram dan TikTok tidak bertujuan untuk bertransaksi. Mereka buka aplikasi tersebut untuk menghibur diri dengan menikmati konten atau update berita trending atau FYP.
Jadi terkadang kalau kita posting sebuah status yang isinya jualan, kebanyakan akan diignore oleh audiens. Atau bisa jadi malah di di-boost outraeach postingannya.
Karena kita tahu bahwa media sosial untuk cari hiburan, maka jika kita ingin berjualan maka komunikasi yang kita bangun juga berkonsep hiburan. Dan teknik yang bisa mendukung strategi ini adalah covert selling.
Misalnya kita sedang membuat postingan storytelling dan di dalamnya ada beberapa offer yang kita kemas secara elegan sehingga orang yang melihat lebih tenggelam dengan narasi cerita yang kita bangun dibanding dengan menyadari adanya penawaran tersembunyi.
Menarik gak?
Coba kita buat sebuah contoh.
Hari minggu pagi kemarin, saya dan keluarga sedang jalan-jalan di alun-alun kota Malang. Saya dan istri sudah memprediksi bakalan ramai kalau pas hari libur gini. Terlebih tidak ada petugas patroli yang menertibkan sehingga antara pengunjung dan penjual bakalan membludak.
Dan benar aja, sesampainya kita di sana alun-alun berasa sesak. Kami sekeluarga jalan-jalan sebentar memutari alun-alun sebanyak satu putaraan sambil mencari spot duduk-duduk yang rindang.
Namun, setelah memutari alun-alun, kami tidak menemukan spot yang cocok. Akhirnya kami mengajak anak-anak untuk bermain di wahana di dalam alun-alun.
Si kecil terlihat senang dan menikmati permainannya. Karena ia sangat bersemangat bermain, akhirnya pada capek juga dan minta sesuatu yang dingin-dingin.
Akhirnya saya dan istri mencoba mencari miniman dingin di toko di dekat alun-alun. Saat ingin masuk ke toko tersebut, kami melihat di samping toko tersebut ada sebuah outlet es krim yang kelihatannya enak.
Karena penasaran, kami mencoba untuk mencicipi es krim tersebut. Saat membuka pintu, kami langsung disambut ramah oleh karyawan dan ditanya, "mau pesan apa, Bu."
Kami langsung disodorkan beberapa menu es krim yang tersedia di toko tersebut. Karena kami suka strawberry, akhirnya kami pesan rasa yan itu saja.
Sambil menunggu es krim kami siap, si karyawan memberitahu kami kalau buah yang digunakan dalam es krim tersebut adalah buah segar yang diolah di hari itu juga. Sehingga rasanya fresh dan enak.
Setelah ditunggu-tunggu, datang juga es krim pesanan kami.
Tanpa banyak basi-basi, kami semua langsung mencoba es krimnya. Saya, istri, dan anak-anak sangat kaget kalau rasanya es krimnya mirip dengan yang M*D. Bedanya ras es krim lebih creamy dan rasanya lebih rich. Pokoknya enak banget.
Selai buahnya juga terasa segar dengan sedikit tambahan gula sehingga manisnya sangat pas saat dimakna bersama es krimnya.
Setelah selesai menikmati es krimnya, kami dikejutkan lagi kalau harga es krimnya ini 30% lebih murah dibanding es krim M"D.
Istri berbisik-bisik, "kok bisa es krim seenak ini harganya bisa lebih murah dari es krim yang itu."
Ya udah nanti kalau kita jalan-jalan di alun-alun lagi dan ingin icip-icip es krim, kita ke sini aja. Tempatnya nyaman, adem, dan bersih.
Comments
Post a Comment